Langsung ke konten utama

Ada Apa Dengan 17

               Tepat tanggal 2 Juni 2012 gue menginjak usia 17 tahun. Jauh hari sebelum ulang tahun gue, orangtua gue udah heboh. Nun gimana nih mau dirayain ga? Mau nraktir dimana? Kalo papa ngasih uang segini kurang ga? (yg menurut gue itu justru kebanyakan). Bahkan pas bokap gue nganterin ke sekolah. Di depan gerbang dia nanya “nun bentar lagi 17 tahun ya?! Mau nraktir dimana?” sungguh pertanyaan di waktu yg ga tepat. Gue langsung celingak celinguk liat keadaan sekitar takut ada yang denger. Jujur aja gue ga mau dirayain atau nraktir besar-besaran. Karena gue ulang tahun pas lagi ulangan kenaikan kelas, jadi pengen fokus belajar aja (asik). Semua kehebohan itu tidak lain karena katanya 17 tahun itu sweet seventeenth.


               Ya, sweet seventeenth. Ini dia yang jadi permasalahan gue di posting kali ini. Tanda tanya besar, kenapa 17 tahun disebut sweet? Kenapa hanya 17 tahun doang yg disebut sweet? ADA APA DENGAN 17? Gue melakukan survey ke beberapa teman gue.
Ada yang bilang karena 17 tahun ini :
 1. Udah dianggap dewasa
 2. Dapet KTP, SIM dan surat surat lainnya                                                                                      
 3. Bisa nonton film yang 17 tahun keatas
 4. Kita boleh ngapain aja, kan udah gede
               Sedikit bercerita, di usia gue yang 17 tahun ini gue malah ngerasa semakin banyak peraturan yang diterapkan oleh nenek gue. Ga boleh main sampe lewat jam 6, ga boleh boncengan naik motor sama temen, kalo mau main harus ngasih nomer telepon temen yang bisa dihubungi, ngasih alamatnya, dll. Bertambahnya peraturan, itu perubahan pertama di usia 17. Yang kedua, gue semakin memikirkan masa depan gue, mau jadi apa gede nanti, mau kuliah dimana, kerja apa, kriteria calon suami (halah), banyak deh pokoknya. Tapi gue merasakan perubahan pada diri gue. Apa perubahannya? Hmm... apa ya? Let me think. lebih tertantang untuk lebih bertanggung jawab. Ya, tertantang doang kalo berubah jadi lebih bertanggung jawab sih kayaknya belum. Tapi aku akan berusaha! Trust me!
                Jadi inilah yang gue dapatkan dari usia 17 tahun ini:
  1.  Bukan dianggap dewasa tapi DITUNTUT untuk bersikap dewasa 
  2.  Mendapatkan KTP,SIM dll menandakan bahwa kita memiliki hak dan kebebasan untuk melakukan segala sesuatu sendiri. Nyetir sendiri, buka rekening atas nama sendiri dan hal-hal kependudukan lainnya tanpa perlu persetujuan orang tua. Yang berarti menuntut kita untuk lebih bertanggung jawab
  3. Bisa nonton film 17 tahun keatas? bahkan sekarang film-film dan video-video di youtube yang mengandung unsur “dewasa” bisa disaksikan tanpa harus menunggu 17 tahun
  4. Kita boleh ngapain aja, kan udah gede. Ya, kita bebas ngapain aja, bebas berkreasi, bebas jatuh cinta(ehem) asalkan tidak melampaui batas 
 Jadi apa makna “sweet” dalam sweet 17th?
 apa karena perayaannya yang besar-besaran atau surprisenya yang unforgettable. hmm... semua akan indah dengan cara kalian sendiri. indah itu pilihan dan kalian yang menentukan. jadi, apa yang membuat 17th kalian "sweet"?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

One Year Lost...

Woowww! Setahun ku tak menyentuh blog ini!!  Terakhir nulis Desember 2014 dan sekarang Oktober 2016. Oh God! kemana aja gue ilang selama itu? Banyak banget momen-momen di 2015 yang bikin gue sibuk sampe nggak sempet bersapa di blog ini (halah bilang aja lagi males nulis). Tapi, emang tahun kemarin gue sibuk ngurus acara GPFEST, XpressiJurnal, dan yang paling bikin gue lupa diri (lupa makan, lupa kalo laper, lupa tugas kuliah, lupa kalo nggak punya duit) adalah saat gue membuat majalah OUT!. FYI majalah OUT! adalah majalah yang sekarang sudah resmi menjadi majalah Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan PNJ. Inilah penampakan majalah OUT! edisi perdana yang udah setahun disimpen Gue mulai mengonsep majalah ini dari nol bersama teman-teman yang luar biasa dari tiga program studi yang berbeda: Desain Grafis, Teknik Grafika, dan Penerbitan. Suatu tanggung jawab yang besar pada saat itu diberikan kepada gue sebagai pemimpin umum majalah OUT!. Sempet pengen nyerah kare...

Hasil Tugas Kuliah Tidak Maksimal? Inilah Penyebabnya!

Ilustrasi / jobs.aol.com Bila kamu pernah merasa hasil kerja yang kamu buat tidak memuaskan, mungkin kamu masih setengah-setengah mengerjakkannya. Padahal bila dikerjakan secara maksimal hasilnya pun bisa memuaskan. Tahukah kamu apa penyebab seseorang melakukan pekerjaannya dengan setengah-setengah? David J. Lieberman Ph. D dalam bukunya, Instant Analysis, menyebutkan sebab-sebab seseorang melakukan pekerjaanya setengah-setengah sebagai berikut:

Sumpah! Status ini Lebih Galau daripada "Single"

Hello to my new status! "Fresh Graduate" status yang lebih bikin galau daripada status "Single". Sebagai fresh graduate , gue ngerasa semakin banyak tuntutan baik dari dalam diri sendiri maupun dari orang tua. Gue lulusan diploma yang kata orang kebanyakan, ini lulusan tanggung. Katanya sih lulusan diploma dipandang sebelah mata sama perusahaan-perusahaan, Katanya loh ya. Kata siapa? ya kata orang-orang, termasuk orang tua gue. Makanya, nyokap gue keukeuh banget nyuruh gue ekstensi S1, begitu pun dengan om dan tante gue. Ga tanggung-tanggung, nyuruh ekstensinya di luar negeri dan nyari beasiswa. I know, that's really good for me . Gue pun sejak masih SMP selalu punya cita-cita untuk study abroad . Bahkan gue sempet apply beasiswa ke Singapura untuk ngelanjutin SMA. Pada akhirnya, gue tetap menuntut ilmu di Tanah Air tercinta sampai gelar A. Md tersemat di belakang nama. Sekarang muncullah kegalauan terberat gue, "Lanjut kuliah atau kerja? atau kerj...